Kurikulum merdeka menjadi bahan obrolan bagi para orang tua maupun anak muda, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya (sosial media). Dari sana kita menjadi tahu bahwa sebagian masyarakat masih peduli dengan pendidikan di Indonesia saat ini, karena inilah yang akan menentukan generasi bangsa Indonesia ke depannya. Jika kurikulum yang digunakan tidak berkualitas, tentunya akan berpengaruh terhadap masa depan bangsa Indonesia, di mana kita terus membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas yang menjadi pondasi berdirinya sebuah negara.
Lalu, seperti apa sebenarnya kurikulum baru ini?
Sebelum mengenal kurikulum merdeka lebih jauh, sebaiknya kita memahami alasan dari lahirnya kurikulum merdeka ini yuk! Nah, berdasarkan The SMERU Research Institute (2020) terdapat 2 hal, yakni :
1) Analisis dari ketimpangan belajar menunjukkan siswa yang dapat mengakses perangkat digital, guru yang adaptif, pada kondisi sosial yang lebih tinggi, juga peran dari orang tua yang aktif dalam berkomunikasi dengan guru, cenderung dapat memiliki kemampuan di atas rata-rata.
2) Diprediksi bahwa ketimpangan hasil belajar siswa akan semakin melebar. Jika tidak ada hal yang dapat mendorong guru dalam memperhatikan perbedaan kemampuan antar siswa, maka siswa yang memiliki kemampuan yang rendah akan tertinggal jauh.
Menurut Studi INOVASI dan Puslitjak (2020), dengan semakin melebarnya kesenjangan dalam pembelajaran akan memiliki risiko yang besar. Lalu, dengan pembelajaran selama masa Covid-19 memiliki dampak yang lebih besar, sebab siswa yang memiliki latar belakang ekonomi yang tidak baik berisiko tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan begitu, kita menjadi tahu bahwa terdapat perubahan pola dan sistem pendidikan, yang tadinya melalui tatap muka menjadi daring. Dan sebenarnya, Kemendikbudristek telah melakukan antisipasi pada Agustus 2020 terhadap ketertinggalan pembelajaran atau learning loss, dan kesenjangan pembelajaran atau learning gap, dengan menerbitkannya kurikulum darurat dalam kondisi khusus.
Kurikulum darurat adalah bentuk penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum ini dilakukan pengurangan terhadap kompetensi dasar di tiap mata pelajaran dan guru juga siswa lebih berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk pembelajaran di tingkat selanjutnya.
Kurikulum darurat inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya dari kurikulum merdeka yang sedang di uji cobakan hingga 2 tahun ke depan.
Kelebihan Kurikulum Merdeka
1. Sederhana dan mendalam, Kurikulum Merdeka berfokus pada materi
yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik. Proses pembelajaran
lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, dan menyenangkan.
2. Peserta didik dapat memilih mata pelajaran sesuai kemauan, bakat, dan aspirasinya. Guru juga mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik. Sekolah pun memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan Pendidikan.Lebih relevan dan interaktif, Pembelajaran melalui kegiatan proyek , lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.
Kekurangan Kurikulum Merdeka
1. Kurikulum ini masih baru, usai diluncurkan oleh Mendikbud ristek
beberapa bulan lalu, Kurikulum Merdeka Belajar ini perlu dilakukan pengkajian
dan evaluasi yang lebih mendalam agar efektif dan dalam penerapannya.
2. Sistem pendidikan dan pengajaran yang masih belum terlaksana
dengan baik. Pada bagian prosedur pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.bisa
disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka Belajar masih belum menuju kepada sistem
pendidikan dan pengajaran yang terencana dengan kompeten
3. Kurangnya SDM dan sistem belum terstruktur.
4. Kurikulum Merdeka Belajar kurang matang dalam persiapannya.
5. Kurangnya SDM dan sistem belum terstruktur. Karena Kurikulum
Merdeka Belajar harus melakukan evaluasi terlebih dahulu dan memerlukan
persiapan yang matang agar mempunyai sistem yang terstruktur dan sistematis.dan
juga perlu mempersiapkan guru/pengajar sebagai pelaksana kurikulum merdeka.
Hal ini terlihat dari masih kurang dari sumber daya manusia
untuk melaksanakan kurikulum merdeka ini.